Explorasi seismic 3D merupakan teknologi pencitraan (imaging) bawah permukaan secara tiga dimensi. Berbeda dengan seismic 2D yang mencitrakan point tertentu atau ‘titik’ maka seismic 3D adalah teknologi untuk mencitrakan ‘bidang’. Seismic 3D memiliki kelebihan untuk meng-eliminasi mis-tie dalam migrasi reflector miring, meningkatkan resolusi horizontal, dan memberikan citra yang lebih detail.

Berikut adalah terminologi yang sering digunakan dalam Explorasi Seismic 3D:

  • Inline: garis-garis semu yang parallel dengan bentangan receiver.
  • Crossline: garis semu yang tegak-lurus dengan Inline.
  • CMP bin: kotak semu di bawah permukaan dengan ukuran ½RI*½SI dimana RI adalah Interval receiver dan SI interval Source. CMP bin mengandung semua trace yang dimiliki oleh CMP yang sama.
  • Patch: area dari reveiver yang merekam source yang sama.
  • Swath: area dimana receiver merakam sumber-sumber tanpa adanya perpindahan crossline (crossline roll over).
  • Salvo: sejumlah sumber tembakan yang direkam oleh patch yang sama.
  • Fold: banyaknya mid-point yang di-stack dalam CMP bin yang sama. Besaran Fold berbeda dari bin ke bin sejalan dengan perubahan offset dan azimuth serta berubah terhadap kedalaman sejalan dengan bertambahnya offset. Fold=NS*NR*b2, dimana NS dan NR adalah banyaknya Source dan Receiver dalam wilayah tertentu dan b merupakan dimensi bin. Contoh jika per kilometer persegi terdapat 80 source dan 600 receiver dan dimensi bin 25m maka Fold=80*600*25*25 m2/km2=30.
  • Crossline Fold: setengah dari jumlah inline dalam satu patch. Jika dalam satu patch terdapat 8 inline maka Crossline Fold=8/2=4.
  • Inline Fold: Fold/Crossline Fold. Untuk contoh kita 30/4=7.5. Dengan demikian Fold=Crossline Fold*Inline Fold=7.5*4=30.

Berikut adalah contoh untuk mendesign sebuah survey land 3D dengan kedalaman target=3000m, bin=25m dan Fold=30 dengan sistem split-spread (sumber di tengah). Dengan Interval lintasan receiver 400m:

  • Receiver Interval dapat ditentukan dengan 2xbin=2×25=50m.
  • Offset Maximum: katakanlah 90% dari kedalaman target, 3000mx90%=2700m.
  • Jumlah masing-masing receiver pada setiap sisi split spread: 2700/50(receiver interval)=54 receiver.
  • Total perekam setiap line setiap shot=2*54=108.
  • Jumlah receiver yang harus diaktifkan jika hanya tersedia 900 receiver, 108* 8=864 receiver (untuk 1 patch). Maka kita dapat memiliki 8 lintasan receiver.
  • Shot interval biasanya 2*bin=2*25=50m.
  • Crossline fold=8(banyaknya line per patch)/2=4
  • Inline Fold=30/4=7.5
  • Shot line Interval (SI) dapat ditentukan dengan NI=(Total perekam per line/2)*Receiver interval/SI. 7.5 =(108/2)*(50/SI). Jadi SI=360m.

Terdapat beberapa teknik shooting seismic 3D, diantaranya adalah Metoda Swath Shooting:

  1. Lintasan-lintasan receiver dibentangkan secara parallel.
  2. Sumber-sumber ledakan dipasang secara tegak lurus dengan lintasan receiver.
  3. Sumber pertama diledakkan lalu dilakukan perekaman.
  4. Sumber kedua-ketiga dst sampai ke-terakhir (dalam satu patch) diledakkan dengan perekaman dilakukan untuk masing-masing ledakan.
  5. Serangkaian ledakan diatas disebut dengan Salvo-1.
  6. Pindah ke source line berikutnya, lakukan hal yang sama sehingga diperoleh salvo-2, dst.
  7. Beberapa salvo dilakukan sampai akhirnya sampai di ujung lintasan receiver sehingga diperoleh satu swath.
  8. Roll-over sebesar setengah patch kearah crossline untuk memperoleh swath 2, dst sampai seluruh areal 3D.

anim